Thursday, July 25, 2013

on

Ontologi, Epistemologi, aksiologi dalam filsafat ilmu

      Ontologi dalam lapisan  ilmu.
a.Bagaimana letak ontologi dalam perkembangan ilmu dan pembentukan warga negara yang baik dan bermoral?
Letak ontologi dalam perkembangan ilmu
Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Ontologi dalam filsafat ilmu adalah studi pengkajian mengenai sifat dasar ilmu yang arti sifat dasar itu membentuk arti, struktur, dan prinsip ilmu.
Van Veursen menggambarkan bahwa ilmu itu memiliki struktur seperti bangunan yang tersusun atas batu bata dan ontologi menempati posisi yang paling dasar. Dengan kata lain ontologi menempati posisi landasan terdasar dari pondasi ilmu dimana di situlah terletak ”Undang-undang dasarnya” dunia ilmu. Fenomena ilmu dapat dianalogikan sebagai sebuah fenomena gunung es di tengah lautan, dimana yang nampak oleh mata kita adalah kerucutnya saja yang tidak begitu besar, namun jika kita selami lebih mendasar akan tampak fenomena lain yang luar biasa dimana ternyata kerucut yang tampak tersebut merupakan puncak dari sebuah gunung yang dasarnya jauh berasal dari dalam lautan.Ternyata sains atau ilmu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sebagai pengguna kita hanya memandang bahwa ilmu  hanya berkutat pada pembahasan berbagai teori, riset, eksperimen, atau rekayasa berbagai macam teknologi. Ilmu ternyata merupakan sebuah dunia yang  memiliki karakter dasar, prinsip, dan struktur yang kesemuanya itu menentukan arah dan tujuan dari pemanfaatan ilmu.
Letak ontologi dalam pembentukan warga negara yang baik dan bermoral
Seperti yang telah dikemukakan bahwa ontologi adalah sebuah ”undang-undang dasarnya” ilmu. Hal ini dapat kita maknai bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan undang-undang dasar tersebut karena undang-undang itulah yang memberikan arah dan acuan dalam setiap tindakan selanjutnya. Ontologi merupakan cikal bakal pembentukan sebuah peradaban. Artinya baik buruknya suatu peradaban ditentukan oleh ontologi tersebut. Manusia yang menjadi bagian peradaban tersebut terus memikirkan ke arah mana suatu negara akan dibawa.
Dalam penafsiran yang lebih luas dari ontologi, dapat ditekankan lebih lanjut bahwa mesin realitas yang obyektif itu selalu mengontrol segala kejadian melampaui ilmu-ilmu pengetahuan fisika. Kemudian dalam masalah etika, beberapa penganut filsafat realisme yang berketuhanan berpegang pada hukum-hukum moral di dalam alam, kita akan melihat bagaimana seringnya kata alam dan alamiah masuk ke dalam pembicaraan dan diskusi ahli-ahli filsafat dan penganut realisme. Jadi, dengan adanya ontologi akan adanya sebuah dunia yang penuh dengan benda-benda yang senantiasa bergerak, seperti mekanisme yang dikaruniai pola, keterangan dan gerakan harmonis. Bergerak, seperti mekanisme yang dikaruniai pola, keterangan dan gerakan harmonis itulah tercermin dalam sebuah ”undang-undang” yang mengatur segala aktivitas agar tidak terjadi benturan antar komponen-komponen. Sebagai contoh, untuk membentuk warga negara yang baik dan bermoral, di negara kita pernah tercatat dalam sejarah mengenai sejarah pembentukan Pancasila yang dilakukan oleh Negarawan-negarawan kita. Semua pendapat yang diajukan berangkat dari pemikiran dasar (ontologi). Pemikiran dasar inilah yang hakikatnya akan membawa manusia bermoral dan baik. Meskipun dalam praktiknya tidak sesuai dengan yang diharapkan (baik dan bermoral). Hal ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang ontologi. Dapat diakatakan bahwa ontologi mengajak kita untuk berpikir mendalam mengenai hakikat sesuatu itu.
b. Bagaimana kedudukan epistimologi dalam filsafat ilmu? Dan bagaimana hubungan moral, seni, serta berikan contoh?
·         Ilmu dan moral serta seni merupakan sesuatu yang sulit untuk di pisahkan dimana ke tiga komponen ini saling mempengaruhi satu sama lain. Setiap manusia memiliki penalaran yang luar biasa, maka sering orang berkata bahwa makin cerdas atau pandai kita menemukan kebenaran makin benar maka makin baik pula perbuatan kita. Atau sebaliknya semakin tinggi tingkat penalaran, makin berbudi sesorang tersebut sebab moral mereka dilandasi analisis yang hakiki atau sebaliknya semakin cerdas seseorang maka makin pandai pula kita berdusta dan begitu juga dengan kemajuan teknologi membuat semakin giat orang untuk bersaing. Demikian kemajuan teknologi membuat atau menuntut seseorang menghasilkan sesuatu,
contoh : seseorang ahli kimia merakit sebuah bom, kemampuan   merakit tersebut merupakan suatu ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut, kemudian apa manfaat dan kegunaan dari apa yang dibuatnya (bom) di sinilah peranan moral orang tersebut.
2. Dalam Filsafat ilmu, terdapat cabang-cabang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Apa perbedaan antara epistemologi, aksiologi dan ontologi?
Epistemologi berasal dari kata ”episteme” dan ”logos” yang berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Jadi epistemologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal-usul pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan, bila direnungkan maka dapat dipahami bahwa prinsipnya epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan dan batas-batas, sifat, metode dan keahlian pengetahuan.
Sedangkan aksiologi merupakan bagaimana cara manusia menggunakan penalaran otak yang luar biasa, sehingga perkembangan ilmu itu sudah sejak dulu diarahkan dalam tahap-tahap pertumbuhannya. Jadi jelas dan nyatalah bahwa teori-teori ini adalah dalam rangka penerapan suatu disiplin ilmu yang dikaji secara ilmiah dengan secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, terstruktur, menggunakan metode yang jelas, serta datanya validitas.
Ontologi adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.
      Contoh ”mengadakan sebuah penelitian tentang salah seorang siswa yang tidak mau menulis”, dengan mengkaji faktor-faktor penyebabnya serta mencarikan solusinya
3. Ilmu berkembang dengan teori dan cara berpikir sebagai sarananya
     a. Bagaimana Konsep kebenaran menurut rasionalisme, empirisme, teori  koherensi, dan teori korespondensi? berikan contoh sehingga jelas jawaban saudara dalam kehidupaan sehari hari.
Konsep kebenaran menurut rasionalisme, empirisme, teori koherensi, dan teori korespondensi :
Kebenaran menurut rasionalisme, Descartes berpendapat bahwa apa yang jelas dan terpilah-pilah harus dipandang sebagai suatu kebenaran , contoh ”seorang siswa terlambat datang kesekolah dengan alasan ke hujanan di jalan dan saat itu memang keadaan alam tidak bersahabat”, maka secara rasional dan akal sehat alasan siswa tadi dapat di terima.
Di sisi lain Descartes  menemui hakikat sesuatu akan tetapi agar hakikat segala sesuatu dapat ditentukan, dipergunakan, pengertian-pengertian tertentu seperti substansi, atribut, sifat dan modus.
Kebenaran menurut emperisme, pada dasarnya para tokoh  empirisme ini menitik beratkan pada pengalaman. Menurut Bacon tugas yang sebenarnya dari pengetahuan adalah  mengusahakan penemuan-penemuan yang dapat meningkatkan  kehidupan yang lebih baik. Dimana penemuan-penemuan itu di dasarkan atau diperlukan wawasan seseorang di mulai dari bekerja menurut suatu metode yang benar, orang bersikap pasif terhadap bahan-bahan yang di sajikan alam dimana kita menghindari prasangka-prasangka terlebih dahulu. Contoh ”seorang murid telaten dalam menyulam karena memang didasari oleh faktor keluarganya yang sehari-hari bekerja sebagai penyulam”, sedangkan korespondensi merupakan suatu teori yang menitik beratkan tentang cara merespon atau memberikan jawaban yang diminta pada orang lain. Contoh ”seorang guru mengemukakan suatu pendapat tentang  rencana bertamasya namun guru tersebut meminta respon atau tanggapan dari siswanya”.
b. Bagaimana perkembangan ilmu mulai adanya zaman batu sampai saat ini ? Jelaskan dengan  contoh!
     Dahulu, orang-orang telah banyak membicarakan tentang kejadian dunia ini. Ahli filsafat pada zaman purbakala (sebagai contoh orang yunani kuno) telah menciptakan filsafat alam yang pertama di dunia dan telah berspekulasi tentang asal mula alam semesta ini (Prasetya: 88). Udara, air, api mereka katakan sebagai bahan utama dari kenyataan, asal-usul sesuatu dari dunia ini. Ketika ahli pikir dan ahli filsafat lainnya berusaha mencari asal-usul utama alam semesta ini, tiba-tiba Democritus menampilkan gagasannya bahwa: ”ada kemungkinan besar sekali bahwa dunia ini tidak terbuat dari benda-benda alam, akan tetapi dari butiran-butiran kecil yang bertindak sebagai batu bangunan untuk alam semesta  ini yang dapat disusun dan dibentuk dalam berbagai bentuk dan dalam bermacam ragam variasi yang tidak terbatas”. Butiran kecil itu dinamakan atom yang artinya tidak dapat dibagi lagi atau dipecah. Sejak saat itu benda yang berukuran keci yang tidak dapat dibagi lagi memiliki unit tertinggi dari realitas fisika.
      Ilmu fisika atom kemudian muncul dengan pengertian bahwa untuk mencari atau mengetahui batu bangunan besar dari jagad raya ini hendaknya dilakukan dengan pemecahan masalah susunan asli (orisinil) dari masalah atom tersebut. Peneltian ini terus dilakukan sampai saat ini. Dan banyak peneltian dalam bidang fisika mengusahakan untuk mengetahui keadaan butiran-butiran kecil yang disebut atom itu. Spekulasi-spekulasi yang muncul dalam abad ke-19 dan awal abad ke-20 dari para ahli fisika mengatakan bahwa ato itu berbentuk bulat dan bahwa zat atau benda itu terbuat atau tersusun dalam patikel-partikel yang sangat kecil yang berbentuk marmer atau bola bilyard yang jumlahnya tidak terbatas. Lebih lanjut peneltian menyatakan bahwa ato itu sebenarnya tersusun dari partikel-partikel kecil yang disebut elektron, yang mengelilingi intinya dan mirip seperti lintasan planet pada orbitnya dengan matahari sebagai pusatnya. Peneltian ini kemudian mendapat tambahan bahwa inti atom itu masih tersusun lagi dari benda-benda yang lebih kecil yang dinamakan neutron dan proton. Di era saat ini ternyata masih ada susunan yang lebih kecil lagi yaitu Quark yang lebih lanjut dipelajari dalam fisika kuantum dan fisika statistik.
      Akan tetapi para ahli fisika mempertanyakan pada diri mereka sendiri, kemana tujuan dari segala peneltian itu?. Mereka mulai kebingungan, apakah mungkin untuk mengukur kedalaman zat atau benda untuk menemukan partikel zat atau benda itu yang betnar-benar asasi yaitu unit realitas yang secara mutlak tidak dapat dibagi-bagi lagi?. Mereka, para ahli itu sudah jelas, pada masa sekarang ini telah mengembara dan berjalan jauh melampaui batas pandangan mereka sendiri, bahkan melampaui jangkauan mikroskop yang paling sensitif sekalipun. Sebaliknya, mereka harus puas dan menghibur diri mereka sendiri dengan model teoritis tentang atom yang mereka gunakan untuk menerangkan pergerakan atau perilaku atom. Sampai ke titik ini, mereka mulai menyadari bahwa pada hakikatnya sifat atau gerak atom itu adalah gerak zat atau benda, begitu pula strukturnya yang menyatakan apa sebenarnyan yang mereka inginkan. Lebih lanjut, ketika peneltian berlanjut pada jenis partikel itu sendiri, keadaan menjadi lebih jelas lagi bahwa sebagian tenaga nuklir itu memberikan manfaat untuk menahan partikel tersebut agar tetap stabil. Faktanya, partikel-partikel itu sedikit demi sedikti semakin dapat dimengerti orang sebagai titik kutub tenaga (energi) yang dapat dianalogikan dengan butiran-butiran kecil dari suatu benda. Hal ini menyebabkan munculnya fisika modern, yang menganggap zat atau benda  itu sama seperti energi yang dibekukan atau marmer ato yang sudah dibicarakan tadi.
      Melalui perubahan pemikiran yang fundamental ini munculah suatu revolusi dalam pengertian ilmu fisika yang telah memiliki prosedur dan desain-desain percobaan (eksperimental). Pada kenyataannya masih banyak terdapat problema baru yang belum pernah terjadi di zaman Democritus. Salah satu masalah yang menjadi fenomena adalah bagaimana melepaskan energi yang terpendam dalam atom itu.
      Yang menjadi titik persoalan kita adalah kita harus memecahkan permasalahan realitas secara tepat, karena konsepsi kita tentang realitas, mengontrol pertanyaan tentang dunia ini. Tanpa adanya pertanyaan kita tidak akan memmperoleh jawaban.
4. Dalam Filsafat ilmu, terdapat cabang-cabang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
a. Apa perbedaan antara epistemologi, aksiologi dan ontologi?
Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh  dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.
Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.
Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial
b. Ada tiga fungsi ilmu, yaitu fungsi eksplanatif, prediktif, dan kontrol. Jelaskan tiga fungsi itu  dengan contoh dalam bidang pendidikan.
Fungsi eksplanatif yang dilakukan oleh seseorang untuk mengekspos kemampuan guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat pada bidang pendidikan.
Contoh : ”seorang siswa dapat mencipatakan atau memuat rangkaian listrik sederhana dengan memanfaatkan media/barang yang ada.
Fungsi prediktif merupakan cara seseorang menggunakan pola pikirnya untuk memprediksikan sebab dan akibat sesuatu yang di ciptakannya.
Contoh : ”dari rangkaian listrik sederhana tadi siswa dapat memperkirakan tentang rangkaian yang dibuatnya.
Fungsi kontrol pada pendidikan adalah mengawasi atau memantau tentang apa yang sudah dilakukan oleh seseorang,
Contoh : ”aktifitas siswa yang membuat rangkaian itu    

0 comments:

Post a Comment